Tak Banyak Bicara, Tunjukan Aksi Nyata: Belajar Kepemimpinan dari Rektor Unisal!
Bandung - Di usia yang relatif muda untuk posisi seorang rektor, Fatimah Nurjannati Iskandar, S.E., M.Ak. memilih untuk terus berjalan tanpa banyak penjelasan. Ia sadar bahwa posisinya kerap mengundang tanya dan keraguan. Namun, baginya kepemimpinan tidak perlu dibela dengan kata-kata yang panjang. “Saya tau, di luar sana pasti banyak yang meragukan saya, umur 30-an kok sudah jadi rektor. Tapi saya sudah tidak mau menanggapi itu dengan kata-kata, saya ingin menunjukkannya dengan aksi yang nyata,” ungkapnya ketika ditemui pada 13 Januari 2026.
Pernyataan itu bukan respons emosional biasa, melainkan itu adalah cerminan sikap hidup yang ia pegang sejak lama. Sebagai Rektor Universitas Sali Al-itam (UNISAL), Bu Fatimah menempatkan dirinya bukan sekadar seorang rektor saja, lebih dari itu beliau menepatkan diri sebagai seorang yang mengemban amanah untuk banyak orang.
Bu Fatimah menjabat sebagai Rektor UNISAL sejak universitas tersebut berdiri hingga tahun 2026. Di luar tugas rektor, beliau juga merupakan dosen tetap pada Program Studi Akuntansi Perpajakan.
Menariknya, Bu Fatimah mengakui bahwa awalnya ia tidak pernah merencanakan diri untuk menjadi dosen, apalagi rektor. Bahkan, ketertarikannya pada dunia akademik tumbuh perlahan, seiring dengan kecintaannya pada proses belajar. Dan dari situlah ia melanjutkan pendidikannya hingga jenjang S3.
Bu Fatimah juga telah menyusun target karier akademiknya secara terukur. Misalnya, menyelesaikan studi S3 dan merancang langkah menuju jabatan Lektor Kepala dalam dua tahun kedepan. Selain itu, beliau juga berharap dapat mencapai jabatan Guru Besar sebelum usia 50 tahun. Bagi Bu Fatimah, kita semua harus memiliki mimpi dalam hidup ini, jangan pernah takut untuk bermimpi. Sebab semua hal itu bisa terjadi dimulai dari mimpi yang kita usahakan dengan sungguh-sungguh.
Nilai-nilai kepemimpinan yang dipegang oleh Bu Fatimah tidak datang begitu saja. Beliau tumbuh dari ajaran almarhum ayahnya, Bapak Sali Iskandar, pendiri UNISAL. Dari sang ayah, beliau belajar bahwa hidup harus memberi manfaat bagi banyak orang, bukan sekadar mengejar validasi atau pengakuan orang lain saja.
Beliau percaya bahwa pencapaian sejati tidak perlu diumumkan sendiri, melainkan akan dinilai oleh orang lain melalui dampak nyata. Karena itu, beliau sangat membuka diri terhadap kritik dan penilaian sebagai bagian dari proses bertumbuh sebagai seorang pemimpin.
Ada satu pesan dari ayah beliau yaitu "Untuk menjadi seorang pemimpin itu harus jujur".
Sehingga, Sikap jujur, dapat dipercaya, dan mampu mempertanggungjawabkan amanah menjadi prinsip yang terus ia pegang dalam memimpin universitas. Sebagai rektor, Bu Fatimah terus berusaha untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya, khususnya bagi mereka yang berasal dari daerah terpencil dan latar belakang kurang mampu.
Di tengah berbagai peran dan ekspektasi, Bu Fatimah memilih fokus pada satu hal yang ia anggap paling penting yaitu bekerja nyata. Tanpa banyak kata, ia menempatkan kepemimpinan sebagai proses panjang yang harus dijalani dengan tangung jawab dan kebermanfaatan bagi banyak orang.
Komentar
Posting Komentar